Senin, 16 Agustus 2010

Korban sebuah ambisi

Aku sebenarnya nggak pernah ngebayangin tuk jadi model, apalagi aku tinggal di daerah agak terpencil di Pulau Kalimantan, tepatnya di sebuah kota kabupaten di Kalimantan Timur. Tapi mama selalu mendorongku untuk ikut berbagai lomba modeling, terutama waktu aku masih SD. Aku sih nurut aja, lagian sering menang dan dapet hadiah. Seneng juga sih waktu itu. Tapi …. Agak aneh juga, setiap kali aku tampil untuk lomba, hanya mama yang menunggu. Papa biasanya hanya mengantar sampai depan Mall, lalu pergi lagi atau pulang ke rumah. Nanti ngejemput lagi saat lomba selesai Terus terang, saat itu aku nggak tahu kenapa papa kayak gitu.
Baru deh saat aku udah SMA, aku tahu kenapa papa nggak mau nungguin aku lomba model. Ternyata papa menentang keinginan mama yang menginginkan agar kelak aku jadi model terkenal. Aku sempet nguping saat keduanya berdiskusi soal itu.
“Papa nggak setuju anak perempuanku satu-satunya jadi model. Aku mau Aurel jadi wanita anggun yang memimpin perusahaan. Bukan menjadi wanita penghibur!” kata papa keras.
“Model, artis nggak sama dengan wanita penghibur jalanan, Pa. Itu juga profesi terhormat yang perlu bakat hebat untuk mencapai sukses. Kenapa sih Papa berpikiran kuno gitu?” sahut mama nggak kalah sengit berargumentasi.
Sejak itu aku tahu berkiprah di dunia model karena keinginan mama. Aku sendiri sih sebenarnyanggak suka-suka banget. Waktu itu aku jalani aja karena asyik dan dari pada nggak punya kegiatan lain. Nah sekarang aku mulai keranjingan main musik dan kayaknya mama nggak terlalu suka dengan kegiatan baruku. Eh Papa malah lebih suka aku belajar musik. Dilema deh jaddinya. Awalnya aku coba jalani dua-duanya, tapi lama-lama nggak sanggup juga. Nilai pelajaranku merosot, sementara ujian akhir SMA udah dekat.
“ Rel, mulai sekarang kamu harus memilih, musik atau model. Asal kamu tahu aja di modeling kamu udah nunjukin kemampuan. Tuh liat, berapa piala yang telah kamu 

koleksi. Artinya bakal kamu besar dan punya harapan untuk jadi model dan artis terkenal. Tapi di musik?? Tiap hari kamu hanya les piano atau main organ. Paling-paling main band di sekolah yang nggak jelas itu, “ kata mama suatu hari.
Aku terdiam, berpikir bagaimana harus menjelaskannya ke mama, kalo aku main musik itu bukan untuk jadi pemusik terkenal. Aku Cuma suka main musik dan ingin belajar musik semampuku. Itu aja.
“Ma….” Belum selesai aku ngomong mama sudah memotong.
“ Sudah !! Kamu nurut mama aja, pasti sukses.” Kata mama keras.
Eh besoknya, giliran papa yang mendorongku untuk terus memperdalam belajar piano. Bahkan katanya, aku akan segera didaftarkan di sekolah musik terkenal di Jakarta untuk mengisi liburan. Juju raja aku seneng banget dengar tawaran papa. Tapi bagaimana dengan mama?? Aku benar-benar terjepit. Aku nggak ingin papa dan mama berantem gara-gara aku. Benar aja. Selesai ujian akhir SMA, mama udah menyodorkan jadwal lomba yang harus aku ikuti. Mulai dari lomba yang diadakan di kotaku sendiri, sampai jauh ke luar propinsi. Katanya mama sudah atur semuanya, bahkan sampai buat casting iklan dan sinetron. Aku makin bingung aja. Mau nolak mama pasti ngamuk, mau nrima, giliran papa yang akan marah besar. Inikah yang dinamakan buah simalakama?
“ Rel, lusa kamu udah bias berangkat ke Jakarta. Papa udah daftarkan kamu di sekolah musik. Ok?? Sekarang kamu siap-siap. Papa bakalan nemenin kamu selama di Jakarta,” kata papa di kamarku.
“Pa, tapi mama punya rencana lain. Mama udah ngedaftarin aku buat ikut beberapa lomba model, casting iklan dan casting sinetron. Gimana pa??” Akhirnya aku ngomong juga ke papa.
“lho, kok mama nggak pernah bilang ke papa kalo punya rencana lain?”papa tampak marah sekali.
“Emangnya papa juga bilang ama mama kalo punya rencana nyekolahin aku musik di Jakarta?” aku balik bertanya ama papa. Waktu itu papa hanya menggelengkan kepala. 
“So, Aurel mesti gimana, mesti nurut ama siapa? Jangan paksa Aurel makan buah simalakama dong pa……Juju raja Aurel suka musik, tapi juga nggak mau nyakitin hati mama.” Kataku meledak-ledak dan mulai menangis.

“Rel….. papa hanya ingin kamu menekuni bidang yang kamu sukai. Sedangkan mama lebih suka kamu menuruti ambisinya. Sekarang terserah kamu mau ngikuti yang mana. Hanya saja, kalo kamu pilih jadi model, papa nggak bakalan bisa nganterin kamu,” ujar papa sambil keluar kamar dengan wajah sangat kecewa.
Semalaman aku nggak bias tidur memikirkan dimana aku harus berpijak. Namun, sampai matahari terbit, aku nggak nemuin jawabannya. Bahkan sampai mama masuk kamarku, menyuruh mandi dan bersiap-siap buat berangkat ke Samarinda buat sebuah lomba model antar propinsi.
“Ma, mulai hari ini aku berhenti jadi model dan juga berhenti main musik. Aku mau konsen sekolah aja,” kataku sambil nangis di tempat tidur.
“Apa-apaan sih kamu Rel……..Kesempatan bagus kok disia-siakan. LUpain aja musik, nurut ama mama aja pasti kamu sukses, terkenal!!” jawab mama dengan nada tinggi.
Mama terus memaksaku, bahkan semakin keras. Aku pun tetap bertahan dengan pendirianku. Mama keluar kamar dengan marah dan langsung melabrak papa yang dianggapnya sebagai penghasutku untuk meninggalkan dunia model. Terjadilah perang mulut di ruang tengah. Aku Cuma bias menutup kuping dengan bantal dan menangis.
Liburan kuhabiskan di dalam kamar. Aku hanya keluar seperlunya aja. Makanpun dianter pembantuku ke kamar. Satu sampai tiga hari masih betah. Ketika stok bacaan habis, semua film DVD udah kulalap, aku mulai stress, BT… Anehnya, papa dan mama nggak pernah bosen berantem. Tiap hari ada aja masalah yang jadi bahan buat perang mulut. Badanku kurasakan mulai nggak enak. Sebentar panas, sebentar kemudian menggigil kedinginan. Papa dan mama udah hamper seminggu nggak nengokin aku di kamar. Mereka kayaknya nggak peduli lagi ama anak satu-satunya ini. Akupun nggak mau mengiba-iba nemuin mereka dan ngeluh sakit. Sakit ini kurasakan sendiri di kamar, paling-paling aku menangis sambil meringis kesakitan di perut sebelah kanan.
Keadaanku semakin lemah, sampai menangis pun udah nggak bisa. Tampaknya papa dan mama udah menganggap aku nggak ada. Pembantuku yang udah nggak tega lagi ngelihat aku makin lemah, akhirnya memberanikan diri ngomong ama mama. Eh, mama malah marah-marah ama Bi Inah dan menuduhnya nggak ngurus aku.

Aku berharap setelah itu, mama akan dating mengokku. Eh ternyata mama malah pergi arisan. Padahal aku denger dari Bi Inah, siang ini Wina, sepupuku dari Jakarta akan datang.
Wina kaget ngelihat kondisiku yang lemah. Buru-buru dia membawaku ke rumah sakit. Aku masih sadar ketika diangkat ke mobil, selanjutnya aku udah nggak inget apa –apa. Beruntunglah penyekit lever yang menyerangku belum terlalu berat. Wina dengan sabar menungguku dan jadi teman surhatku. Semua masalahku kutumpahkan kepadanya. Dari dia pula aku dapat jalan keluar buat ngatasin masalahku.
“Rel, kamu masih muda banget. Kayak aku, kuambil semua kesempatan yang ada, kujalani semampuku tanpa harus mengorbankan sekolah. Atur deh jadwal, kapan latihan musik, kapan ikut lomba modeling dan kapan belajar. Soal pilih karier, urusan nanti. Mengalir aja deh. Yang penting porsi sekolah tetep nomor satu. Aku yakin kamu mampu,” kata Wina tak henti-hentinya memberiku motivasi.
Aku seperti mendapatkan angin segar. Aku siap menantang papa dan mama untuk mewujudkan 
Impian mereka……… Dan beberapa hari kemudian aku diperbolehkan pulang ama dokter. Papa dan mama udah nggak bertengkar lagi setelah kejadian kemarin, mereka udah menyadari kesalahannya.
Akhirnya aku sekarang memihak keduanya dan aku baru sadar kalo setiap orang tua selalu memberikan yang terbaik buat anaknya. Hari-hariku kini kujalani dengan penuh semangat untuk menjalani keinginan mama dan papaku demi kebahagiaan mereka dan aku. Karena aku sekarang bisa memanfaatkan waktu dengan baik, setiap perlombaan yang aku ikuti selalu aku menangkan. 
Karena semakin hari semakin banyak yang mengenalku, tawaran menjadi banyak untuk mengisi soundtrack sebuah film yang terkenal. Dari sinilah karierku mulai berkembang. sejajar dengan artis – artis ternama di ibukota.

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Korban sebuah ambisi"

Posting Komentar

Buat siapa saja yang suka dengan artikel saya, silahkan anda share di mana saja anda suka (blog, facebook, twitter dll). Namun, bila berkenan mohon cantumkan link sumber dari artikel yang sobat blogger share (copy/paste). Mari bangun Indonesia lebih baik lagi, dengan berbagi informasi yang bermanfaat. Terima kasih,,^o^
======================================================

Next Prev home